Senin, 11 November 2019

Sakit hatinya tak kunjung hilang.

Ini kisah tentang temanku, hidup, cinta dan sakit hatinya.

Aku sering mengamati dirinya karena memang kita dekat and basically we are inseparateable. Berat badannya menurun, diajak nongkrong malas, update status sedih, prob depresi ringan. Satu-satunya penyebab yang logis adalah karena kisah cintanya kandas delapan bulan yang lalu.

Menurut ku delapan bulan adalah waktu yang panjang, ya sekitar 240 hari, 5760 jam, 345600 menit. Waktu selama itu aku pikir cukup untuk melupakan seseorang dan memulai yang baru. Tapi ternyata dia tidak. Mungkin perasaanya terlau dalam, mungkin cintanya terlalu nyata, atau kenangannya terlalu indah, mungkin pasangannya terdahulu terlalu sempurna. Atau mungkin temanku terlalu lemah, terlalu ketergantugan terhadap pasangannya terdahulu, atau dia terlalu berekspetasi.r

Sampai tadi malam dia bercerita kembali dan berkata, "Rasa sakitnya tak kunjung hilang. Rasa sakitnya tak kunjung hilang meskipun aku sudah mencoba melupakannya, mencoba membuka hati, melakukan banyak hal, yang ada dipikiranku sekarang hanya ingin merusak diri untuk mendapatkan perhatiannya. Apa ku bunuh diri saja?"

Tidak ada yang bisa aku lakukan karena memang aku tak punya banyak pengalaman dibidang perasaan dan cinta, yang bisa aku katakan adalah ketika kita hilang pun belum tentu orang lain peduli, lalu apa jika kamu mati, yakin dia akan peduli?

Kenyataan memang pahit.
Lalu cinta dan perasaan juga tak semua manis.
Kitapun tidak akan terus bahagia dan sedih.

Roda berputar.
Hidup bejalan.

Ya sudah, terima saja. Rasa sakitnya, Rasa bahagianya, Tangis nya juga Senyumnya.
Berserah.
Pasrah.

Selesai.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar