Senin, 30 September 2019

Friend Oh Friend

Houses of Friend.

Sesaat setelah lulus, saya selalu baca artikel apa sih yang bakal dialami di dunia kerja. Dari mulai ngadepin bos yang mungkin lebih kejam dari dosen, teman satu kantor yang lebih menusuk dari teman dikampus dan yang paling menarik buat saya adalah katanya circle of friend ketika sudah memasuki dunia akan jauh mengecil dibanding kan saat kuliah. Sontak saya terkena shock hipovolemik. Engga deng bercanda cuma ya saya kaget, karena teman saya aja sekarang udah dikit, mau sedikitin lagi, sekalian aja ga punya teman.

Dan memang terasa, makin lama semakin menjauh, semakin berbeda kesibukan karena beda pekerjaan, beda daerah, ya beda jauh lah. Ada satu sampai titik dimana yang saya ga ngobrol lagi sama mereka, tau-tau diundang digrup “xxx mau merit”.

Awalnya saya sedih, tapi ya begimana lagi,
bukan kah kita tidak pernah bisa memaksakan seseorang tinggal terus dikehidupan kita?

Lanjut cerita masuk ke dunia baru yang dipenuhi oleh berbagai rumah, rumah saya yang pertama bertempat di salah satu kota besar di Indonesia. Saya kenal cukup banyak orang baru, 20 mungkin, lalu dekat dengan beberapa orang ya tidak lebih dari 10 orang. Saya pikir makin kecil aja nih circle of friend saya but I keep maintain friendship under professionalism with them, we play, we talk, we struggle together, sharing manis pahit asin hidup. Kebetulan kan saya jiwa yang suka nanya jadi saya suka nanya-nanya tentang kehidupan kerja ke orang yang lebih tua dan lebih senior. Ada pahit dan ada manis, menyenangkan yang pasti, memang tidak sebanyak saat kuliah tapi menyenangkan saat ada teman bicara. Karena saat kita lelah akan pekerjaan bener deh yang kita butuhkan hanya teman bicara.

But then storm coming, i left the house and visit another house.

Yang lebih kecil tapi lebih hangat. Seneng banget dan ngerasa beruntung banget pernah menginjakan dirumah ini. Makan, minum, belajar bersama, ngobrol sampai late night, bercanda tanpa lihat umur (Maaf banget Tuhan aku ga sopan sama mereka). Tapi bener-bener deh, seneng dan bersyukur banget bisa pernah bareng mereka.

Then storm coming again, i left the lil warm house and visit another house.

Rumah yang sampai saat ini saya tinggali. Nyaman dan besar tapi sendiri, berbeda banget sama kedua rumah yang pernah saya singgahi. Benar-benar terasa, ga punya temen, ga punya panutan, ga ada yang membimbing, ga ada teman ngobrol dan keluh kesah, ga ada. Tapi saya banyak belajar disini, dan sekali lagi bersyukur.

Mungkin itu kenapa saya sering banget ngehubungin teman-teman saya dirumah terdahulu, maybe almost everynight I’ll text them and say “hey i wanna disturb you”. Tapi ya ada yang membalas, banyak juga yang tidak membalas, ada juga yang hanya membaca, lebih banyak lagi yang membalas 1-2 kali lalu tidak membaca padahal saat liat di status atau social media lain mereka membalas, mengupdate dan jelas-jelas online.
Waktu pertama saya kaya digituin, I’m totally mad and disappointed. But then i realized that i’m the one who need them, they got another business, another friends, another matters, ya taulah fase dimana kita bukan skala prioritas mereka lagi. Dan mungkin memang dari awal itu not a friend but just college, and we should understand about the difference between them.
Most of the time I still bitter but yeah, nama hidup ges, balik lagi kalimat yang saya kasih italic diatas, kita tidak pernah bisa memaksakan seseorang tinggal terus dikehidupan kita. Jadi sekarang meskipun saya dirumah ini sendiri, ada juga ko orang yang peduli sama saya, meskipun sedikit atau ya ga lebih dari 5 orang haha.

Salah satu contoh nya tadi, di kota saya ini sedang ada ricuh demo yang soal ya taulah kalian DPR-MPR. Tadi salah satu kakak-kakak di another house, bilang ke saya “Teteh hati-hati, teteh kerjanya dilapangan sekarang harus hati-hati, pulang jangan malam-malam, nanti didenda”. Nadanya memang sambil guyon but i get her intention and all want to say is thank you very much, thank you for care about me eventhough we are not that close :)

Here the little tips from me, sebenenya buat kalian yang ngerasa sendiri dan tidak ada yang peduli. Sebenernya ada, pasti ada yang peduli dan nemenin kalian, hanya saja kalian inginnya ditemani dan dipedulikan sama orang tertentu dan orang tertentu itu ga peduli dan ga nemenin kalian. Jadi kalian ngerasanya tuh sendirian, kesepian dan ga dipeduliin terus, padahal mah ada. Hal ini tuh sama kaya istilah, gajah dipelupuk mata tak tampak semut di sebrang lautan tampak. Kita overly focus to something until we dont recognized what we have around us.

Ayo kita mulai sadar kawan! Bahwa sebenarnya banyak yang peduli sama kamu, sama kita. Dan kalau kamu tetep merasa ga ada yang peduliin kamu. Nih saya kasih tau, ada satu yang selalu peduli sama kamu meskipun kamu selalu ga nurut dan termasuk kurang ajar sama Dia. Tebak siapa?

Iya, Tuhan, Allah :)

Allah selalu ada untuk kita ko, bahkan lebih dekat dari nadi kita.

God Bless Y’all.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar